Berita

1. 392 Pedagang Pasar Positif Covid-19, Meninggal 55 orang

1

PEDAGANG pasar tradisional menjadi salah satu yang berisiko terpapar virus corona. Sejak awal pandemi muncul, rekan merupakan tempat yang dikhawatirkan menjelma penularan virus tersebut.

Kekhawatiran tersebut terbukti dengan berdasarkan data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), yang menunjukkan terus bertambahnya pedagang rekan yang terpapar virus corona. Terlebih beberapa bulan terakhir, terdapat Peristiwa kenaikan dan tingkat kematian yang tinggi.

Data pedagang pasar terpapar virus corona terus bertambah. Meski begitu, penambahannya menurut Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi Reynaldi Sarijowan tersua cukup signifikan selama beberapa pekan ini terhitung sejak September 2020.

Reynaldi mengatakan total ada sekitar 1. 392 pedagang pasar terpapar virus corona dengan total kasus meninggal dunia sebesar 55 kasus. Kejadian tersebut terdapat di 27 daerah, 97 kab/kota, dan terjadi dalam 244 pasar.

“Sementara angka kematian terekam sebanyak 55 orang. Jumlah tersebut bertambah 8 orang jika dipadankan data pekan lalu yaitu 47 pedagang yang meninggal karena covid-19, ” kata Reynaldi dalam tanda tertulisnya, Selasa (22/9).

Adanya pedagang dengan terpapar covid-19 membuat pasar harus ditutup sementara. Menurut data DPP Ikappi sudah terdapat 173 pasar yang pernah di tutup sebab covid.

“Penutupan pasar terakhir terjadi pada Pasar Kayen, Pati, Jawa Pusat. Penutupan pasar juga tersebar dalam 27 provinsi dan 97 kab/kota, ” ungkapnya.

Reynaldi mendorong pemerintah wilayah bisa lebih fokus pada adat kesehatan dan memperkuat tes swab atau rapid di pasar-pasar seluruh Indonesia.

“Sementara Ini provinsi yang sudah melaksanakan tahapan swab atau rapid baru DKI Jakarta, Sumbar, Yogyakarta. Selebihnya kami masih mendorongnya agar pemerintah lebih peduli. Selain tersebut, kami meminta pemerintah pusat dan daerah dapat memberikan stimulus kepada para pedagang dalam menjaga biar pasar tradisional tetap bertahan, ” paparnya.

Sebab, kata Reynaldi, pasar kudu tetap berjalan sebagai penopang perekonomian daerah dan pusat distribusi pangan rakyat.

“Kami juga mendapati bahwa ada penurunan omzet pedagang sekitar 55% sampai dengan 70% seluruh Nusantara. Maka kami meminta kepada pemerintah untuk menjadikan pasar tradisional jadi pusat pondasi perekonomian lokal atau perekonomian daerah sehingga kita mampu menjaga agar pasar dan perekonomian terus tumbuh, ” ujar Reynaldi. (OL-4)