Berita

Aktivis Muda NU Ajak Para-para Tokoh Moderat Buat Konten Anti-Radikalisme

TOKOH  muda Nahdlatul Ulama (NU) yang selalu Direktur Panata Dipantara Dr. Adnan Anwar mengharapkan para-para tokoh Islam moderat hadir di media sosial memberikan pemahaman dan mengisi ruang-ruang publik di dunia maya guna membendung dan mengikis propaganda kelompok radikal.

”Ini yang kadang menjadi kelemahan kita, mereka-mereka yang moderat dan aktivis pemuda atau tokoh masyarakat ini seperti banyak stagnan, ” kata Direktur Panata Dipantara yang bergerak di bidang kajian kontranarasi & ideologi dari paham radikal teroris tersebut dalam tanda tertulis yang diterima, Jumat (5/3).

Menuru Adnan, jangan sampai tersisih dari kelompok mereka dengan gencar sekali melakukan ajakan dengan konten hoaksnya.

Adnan menyatakan, buat mengatasi hal tersebut, tokoh-tokoh moderat juga harus sering tampil untuk bicara memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar.

Lebih lanjut, pria yang sudah menjadi peneliti di Institusi Penelitian, Pendidikan dan Pencerahan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini, juga berpendapat bahwa generasi milenial sebagai tingkatan penerus perlu bimbingan, pendampingan dan arahan yang sistematis agar mereka bisa bekerja positif dan inovatif. Tak lupa, menurut Adnan, pengukuhan paham kebangsaan dan keagamaan yang moderat juga menetapkan diintensifkan.

”Karena generasi milenial ini kudu memperkuat jati diri ke-Indonesiaan bahwa Indonesia ini mempunyai peradaban yang sangat maju, sehingga ada kebanggaan nasional terhadap negara kita & terhadap bangsa kita itu, ” ujar Adnan yang saat ini ditugaskan buat mengembangkan organisasi NU pada kawasan Timur Tengah itu.

Apalagi, menurutnya, sebagai negara besar, Nusantara juga punya sejarah tumbuh dengan sikap toleransi dengan sangat besar dan mampu mengelola perbedaan serta bisa mengelola berbagai macam tantangan yang ada.

Ia berpendapat bahwa situasi itu dapat disebut sebagai kebanggaan nasional juga, sehingga generasi muda tidak perlu lagi punya imajinasi liar, seperti misalnya ingin membentuk negara Islam.

”Karena hal itu sudah terbukti gagal di banyak negara. Dan agak suram untuk membuktikan bahwa negara Islam yang dipaksakan itu akan menghasilkan kesejahteraan. Sokong pemahaman dan contoh dengan jalan apa negara yang hancur laksana di Timur Tengah tersebut, telah gagal dalam menganalogikan generasi mudanya karena negaranya terus berkonflik, ” kata pria yang pernah menempuh pendidikan Master Bidang Ikatan Internasional di Jerman itu pula.

Adnan meminta agar sumber-sumber cerita yang otentik seperti karya-karya ulama, tokoh nasional ataupun tokoh bangsa ketika itu mensosialisasikan berdirinya negara Nusantara ini harus direproduksi ulang.

Dengan disosialisasikan dalam bentuk yang baru diharapkan, cakap Adnan, hal ini bisa menyentuh generasi milenial. Tetapi kontennya adalah tentang nasionalisme Indonesia, nasionalisme Islam, tentang Pancasila, tentang NKRI.

”Mungkin harus dikemas dalam bentuk baru, karena generasi milenial ini menyukai bentuk-bentuk yang lebih sebetulnya atau lebih moden. Ini supaya anak-anak milenial tersebut tidak punya keinginan mengakses konten-konten radikal yang mana mereka itu tidak tahu kalau bisa terpengaruh haluan radikal itu, ” ujarnya lagi.

Menurut instruktur Pendidikan Kader Dalang Nahdlatul Ulama (PKPNU) Nasional tersebut, media-media Islam yang intoleran dapat mengancam gabungan dan persaudaraan umat Agama islam maupun umat agama dengan lainnya. Karena itu, kalau media-media itu dibiarkan tumbuh dan tidak ditutup, bisa merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ajaran Pancasila.

”Konten-konten itu menurut saya sudah mengarah kepada ‘membakar rumput di padang ilalang’. Dengan mana ancaman ini menggunakan strategi propaganda dan ghaswatul fikr atau perang adicita, ” ujarnya pula.

Tokoh pemuda NU ini berpendapat bahwa andaikata upaya persuasif, pembinaan & dialog dianggap menemui berkepanjangan buntu, seharusnya pemerintah harus lebih tegas. Pelarangan harus dijalankan dan jangan kecil untuk melakukan tindakan penutupan.

”Karena media dakwah kelompok-kelompok wahabi tersebut bukannya memahami perbedaan yang ada di Indonesia tersebut sebagai rahmat, namun perbedaan sebagai jalan pengukuhan kesahan kelompoknya untuk mengeksklude (meminggirkan) kelompok lain dari Islam, ” kata dia sedang. (Ant/OL-09)