Berita

Doa yang Menembus hingga Langit Ketujuh

PEMBAHASAN Tafsir Al-Mishbah pembuka Ramadan kali ini mengambil kisah di balik turunnya surah Al-Mujadalah (perempuan yang menggugat).

Dikisahkan, sahabat Nabi Muhammad SAW, Khaulah binti Tsa’labah, mengalami perselisihan dengan suaminya, Aus bin Shamit.

Pertengkaran tersebut disebabkan Khaulah yang menolak permintaan suaminya. Lantas, keluarlah kalimat “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” dari mulut Aus bin Shamit.

Khaulah mengadu kepada Nabi Muhammad SAW dan berdoa kepada Allah untuk diberikan petunjuk. Dari situ, Allah menurunkan surah Al-Mujadalah yang mengisahkan tentang hukum zihar.

“Sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan mengadu kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat,” bunyi ayat pertama pada surah tersebut.

Ayat tersebut mengandung makna apabila seorang hamba berdoa, Allah tidak hanya mengetahui doa hambanya, tapi Allah bisa segera mengabulkan permintaan hambanya itu.

Pada ayat kedua, Allah menjelaskan mengenai hakikat zihar yang tidak patut dikeluarkan suami. Ucapan zihar sama halnya seperti talak dan dianggap tidak sejalan dengan nilai agama Islam. Menyamakan istri dengan seorang ibu dari segi keharaman untuk digauli ialah satu hal yang munkar.

Karena perbuatan tersebut dilarang dalam agama, bagi suami yang telah menzihar istrinya, mereka akan terkena sanksi dan harus melakukan tobat sebelum bersentuhan kembali dengan istrinya. Hal tersebut dijelaskan dalam ayat ketiga.

Melakukan zihar sama halnya dengan melakukan pembunuhan karakter. Karenanya, sanksi yang diberikan harus menghidupkan hamba sahaya atau berpuasa 2 bulan tanpa putus. Hal itu tertuang dalam ayat keempat.

Ayat dalam surah Al-Mujadalah tersebut menggambarkan bagaimana pentingnya kedudukan perempuan dalam agama Islam. Khaulah yang berdoa kepada Allah lantas segera mendapatkan jawaban dari Allah.

Ayat tersebut juga mengandung pesan bahwa bila ada yang tidak dimengerti, diskusikan langsung kepada orang yang mengerti, niscaya akan mendapatkan jawaban tanpa perdebatan yang tidak berguna. Selain itu, Allah menjadi tempat pengaduan dan Allah akan mengabulkan permintaan kita dengan apa pun cara-Nya.