Berita

Kodok Merah Hampir Punah, Amfibi Satu-satunya di Indonesia

Kodok Merah Hampir Punah, Amfibi Satu-satunya di Indonesia

AHLI Mirza D Kusrini, dosen IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata mengatakan kalau kodok merah (Leptophryne cruentata) telah menyelap dalam daftar IUCN (The International Union for Conservation of Nature) sebagai satwa yang terancam habis.

Mematok saat ini, menurut Mirza, pengkajian tentang kodok merah masih benar terbatas. Lokakarya yang membahas soal penyebaran dan bioekologi kodok abang di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pernah dihelat pada 2014 silam.

Hal ini disampaikannya dalam Lokakarya Nasional Konservasi Kodok Genus Leptophryne di Indonesia yang digelar oleh Perkumpulan Penggalang Herpetofauna Indonesia (PHI) bekerjasama dengan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University.

“Karena itu, kita perlu mensosialisasikan kepada umum mengenai pentingnya spesies kodok ini yang menjadi satu-satunya jenis bangkong yang dilindungi di Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi antisipasi kegiatan perlindungan terhadap habitat kodok Kelompok Leptophryne yang rentan terhadap perubahan lingkungan. Untuk itu, perlu selalu membahas mengenai teknologi breeding serta mekanismenya, ” ujarnya dikutip lantaran laman IPB University.
 
Menurut Mirza, data penyebaran kodok merah belum lengkap serta data yang dapat ditemukan cuma dikeluarkan dalam bentuk jurnal dengan berusia hampir 60 tahun. Pengkajian tersebut juga meneliti sembilan macam katak lainnya dan mengevaluasi pergerakan populasinya di jalur Cibodas.

Sebelumnya, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada 2005-2012 telah melakukan pengkajian mengenai kodok merah dan kodok jam-pasir (Leptophryne borbónica). Sayangnya, membuka Mirza, riset tidak mendapatkan banyak data.

“Hasil penelitian yang dipublikasikan di tahun 2017 itu membahas melanggar pergeseran habitatnya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan membandingkannya dengan data dari jurnal berumur 60 tahun. Hasil yang didapatkan yakni terdapat pergeseran populasi yang lebih rendah, ” imbuhnya.  

Jamur

Penelitian lain pada 2014 mengungkapkan, terdapat penyakit jamur jenis chytridimycosis yang  menjangkiti kulit loncek yang terjadi, bahkan di seluruh dunia. Jamur tersebut juga satu diantara penyebab beberapa  jenis katak menemui kepunahan.

Namun, sahut Mirza, jenis kodok merah tergolong mampu pulih sejak penyakit tersebut. Pemulihannya sendiri bergantung dari respon imun terhadap patogen dan mikrobiota serta dipengaruhi juga oleh tipe pergerakan dan selat yang dihuni. Beberapa temuan hangat menyebutkan bahwa ada aktivitas anti jamur pada sekresi kulit kodok yang dapat membantu proses pemulihannya.

Selain itu, jelas Mirza, penelitian melanggar komunitas berudu atau anakannya dikerjakan baik pada musim kawin maupun musim lainnya. Walaupun setiap bulannya ditemukan berudu, jarang sekali terlihat kodok yang mencapai tahap masa. Bahkan, peneliti harus meneliti representatif telur yang teramat tua dalam museum untuk melakukan riset bertambah lanjut.

Ia menyebutkan bila penelitian melanda kodok tersebut menjadi penting karena penelitian mengenai ekologi kawin serta publikasi terbarunya semakin jarang ditemukan.

“Sayang sekali sejak tahun 2014 had 2020 saya tidak bisa mengatakan bahwa ada perkembangan penelitian menghantam Leptophryne cruentata di luar monitoring di bebarapa lokasi. Tampaknya ini perlu didorong lebih lanjut, ” sergahnya.

Ia menambahkan, kodok jam-pasir memiliki karakter hampir sama dengan kodok abang namun terdapat perbedaan lokasi penyaluran, yaitu di bawah 1000 mdpl serta terdapat motif khas seolah-olah jam pasir pada tubuhnya.

Walaupun marga tersebut penyebarannya lebih luas daripada kodok merah, namun penelitian menghantam kelimpahannya juga masih terbatas. Dia menemukan bila masyarakat sudah berangkat melakukan breeding dan penangkaran kepada kodok jam-pasir tersebut. Kodok tersebut juga diperjualbelikan secara ilegal jadi binatang peliharaan di e-commerce serta sosial media.

“Langkah masyarakat lebih cepat daripada peneliti yang kini seharusnya menjadi pihak yang melakukan penangkaran, ” keluhnya.

Dikutip dari laman Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kodok merah adalah binatang paling rentan terhadap perubahan cuaca, kodok itu juga merupakan binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan kaya polusi air, perusakan hutan, mutasi iklim. Karena kepekaannya, kodok abang dapat dijadikan indikator perubahan dunia (Kurniati, 2008). (H-2)