Berita

Kolaborasi atau Mati

SAAT itu, siswa dengan prestasi mulia di sekolah, tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan pekerjaan. Siswa, sebagai calon tenaga kerja terampil masa depan, perlu memiliki pengetahuan & keterampilan yang diperlukan buat menghadapi tantangan perubahan cepat di pasar global. Kompetensi dalam apa yang disebut ‘keterampilan abad ke-21’ sesuai kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri secara perubahan harus dikuasai.

Keahlian ini termasuk kemampuan memecahkan masalah, berpikir kreatif & kritis, literasi informasi & teknologi, kesadaran global, keahlian komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Abad 21 ialah era kolaborasi. Aliansi menjadi keniscayaan jika kita ingin berkembang dan menjadi pemenang pada tengah persaingan yang sedemikian ketat.

Dalam dunia yang serbaterhubung, kemampuan kolaborasi menetapkan ditempatkan di urutan teratas. Kolaborasi tidak saja dapat meningkatkan produktivitas, tetapi pula akan membuka peluang-peluang gres di kemudian hari. Tanpa kemampuan ini siapa pula akan berada di pinggir peradaban; menjadi konsumen, tidak produsen. Menjadi penonton kesuksesan orang lain.

Tidak terbayang, bagaimana ojek pangkalan dengan penghasilan yang sangat terbatas, tiba-tiba berubah menjadi bisnis besar dengan omzet khayali, hanya karena ada orang dengan kemampuan kolaborasi istimewa mampu menyatukan semua potensi; pemilik kendaraan, penyedia sistem, dan investor. Hal yang sama terjadi pada bisnis petunjuk belajar. Guru les rumahan dengan bayaran ala kadarnya, dengan sentuhan kolaborasi dengan mengesankan, dapat disulap menjadi entitas bisnis yang menyejahterakan semua pihak yang berperan.

Kolaborasi dalam tim

Kolaborasi ialah kontribusi timbal balik peserta dalam upaya terkoordinasi untuk menghancurkan masalah bersama. Interaksi kolaboratif ditandai dengan tujuan bersama-sama, struktur yang simetris, level negosiasi, interaktivitas, dan saling ketergantungan yang tinggi. Interaksi yang menghasilkan hubungan yang saling mendukung sangat berharga untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Sebaliknya, umpan balik dengan tidak responsif dapat mudarat pembelajaran siswa dalam status kolaboratif. Kolaborasi dapat memiliki efek kuat pada penelaahan siswa, terutama untuk itu yang berprestasi rendah.

Literatur tentang kerja tim & pembelajaran kooperatif menawarkan paham yang bermanfaat tentang dengan jalan apa cara membantu siswa melancarkan berkolaborasi. Kerja tim sudah lama dianggap penting pada dunia bisnis dan pelatihan kewirausahaan. Lancellotti dan Boyd (2008) menerangkan manfaat kegiatan kelompok untuk siswa. Dengan harapan manfaat yang sepadan dapat di transfer dari pengalaman belajar saat membiasakan ke dunia nyata.

Anak belajar bekerja dengan karakter lain dan mengenal bervariasi pendekatan dan ide. Kerja kelompok meningkatkan motivasi anak dan menambah keterampilan pada komunikasi, kerja sama, dan kepemimpinan. Kerja kelompok pula dapat menyelesaikan proyek yang lebih kompleks dalam jangka waktu lebih pendek. Kerja kelompok dapat menumbuhkan kecakapan berpikir kritis yang bertambah besar, mungkin karena anak dan guru harus mempertimbangkan sudut pandang alternatif semasa proses interaksi dalam kaum.

Lancellotti dan Boyd (2008) juga menyatakan manfaat kesiapan karier dan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi & belajar tentang kekuatan dan kelemahan mereka sendiri menggunakan interaksi kelompok. Karena ini, mengurangi tugas individual serta menggantinya dengan tugas atau proyek yang harus diselesaikan dalam kelompok merupakan strategi yang disarankan.

Manakala persekutuan dan pemikiran kritis tidak dapat tertanam dengan bagus dalam proses pembelajaran, oleh sebab itu siswa tidak akan menganggapnya penting. Sudah barang tentu kemampuan bekerja dalam tim bersama dengan orang-orang dari latar belakang yang bervariasi tidak datang begitu saja. Ini ialah perilaku dengan dipelajari. Robotika, misalnya, yaitu salah satu alat penelaahan yang kuat untuk bisa mengembangkan keterampilan sosial siswa, kemampuan untuk berkolaborasi & bekerja secara efektif dalam tim (Carbonaro  et al , 2004; Eguchi, 2012; Johnson, 2003).

Menyelap akal, siswa dapat dengan autentik mengembangkan keterampilan kolaborasi ketika bekerja dalam tim untuk menghasilkan solusi kreatif ketika menyelesaikan tantangan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa studi telah dilakukan secara khusus untuk memahami bagaimana anak bekerja dalam tim & mengembangkan kemampuan untuk berangkulan bersama ketika terlibat di berbagai kegiatan pembelajaran. Sebab karena itu, hal berbudi memberi siswa pengalaman berinteraksi dalam kelompok, baik pada aktivitas intra atau tambahan kurikuler.

Koneksi interpersonal bertambah intens dalam kerja golongan. Di ruang kelas, sifat yang menunjukkan siswa terpaut secara interpersonal dan saling mendukung satu sama lain terlihat jelas.   Bonding   tampak ketika siswa saling membuktikan kepedulian terhadap teman sebaya dalam menyelesaikan tugas bergabung. Koneksi interpersonal juga mampu diamati manakala siswa saling memberikan pujian atau pengukuhan kepada teman yang mampu menyelesaikan tugas yang dibebankan. Saling memuji dan menilai ialah cara alami buat memompa motivasi.

Dalam pekerjaan kelompok muncul perilaku positif,   peer assistance , dan  knowledge sharing.   Oleh karena guru memberi jalan siswa untuk menyelesaikan tunggal masalah yang dihadapi grup, mereka cenderung berusaha membongkar-bongkar dan mendapatkan bantuan daripada rekan-rekannya sendiri. Mungkin sekadar siswa mengalami kesulitan dan frustrasi dalam memecahkan tugas. Akan tetapi, ini justru akan memberikan stimulasi nyata bagi setiap anggota untuk saling berdiskusi, mencoba mendapatkan pengetahuan, saran, dan solusi potensial dari dalam kelompok.

Kepemimpinan kolektif

Tradisi kolaborasi hanya dapat ditumbuhkan dalam kepemimpinan kolektif-kolegial. Kepemimpinan kolektif memiliki individualitas setiap orang bertanggung tanggungan atas kesuksesan organisasi secara keseluruhan-bukan hanya untuk order atau jabatannya sendiri. Kepemimpinan kolektif mendistribusikan dan mengalokasikan kekuatan kepemimpinan seperti kepandaian, kemampuan, dan motivasi ke semua lini organisasi. Di dalam konteks sekolah, pimpinan madrasah memikul tanggung jawab utama untuk mengembangkan strategi pelaksanaan kepemimpinan kolektif yang kompak, efektif, dan berwawasan ke depan.

Pimpinan sekolah menciptakan lingkungan yang positif serta mendukung bagi staf, staf kemudian menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan diri siswa, memberikan pelayanan berisi tinggi. Dalam budaya kepemimpinan kolektif, semua staf mengarah melakukan upaya penyelesaian perkara untuk memastikan kualitas penyajian prima dan untuk memajukan inovasi yang bertanggung tanggungan, dalam rangka memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar berkolaborasi.

Kinerja sekolah tidak sekadar ditentukan oleh jumlah atau kualitas kepemimpinan orang perorang. Penelitian membuktikan manakala hubungan antarpemangku keinginan sekolah berkembang dengan bagus, kepercayaan akan meningkat. Kepercayaan ialah modal utama buat membangun ekosistem kepemimpinan kolektif yang harmonis, yang di gilirannya dapat menjadi gaya baik bagi siswa dengan jalan apa seharusnya bekerja dalam awak. Disini pilihannya cuma satu,   collab or collapse.