Berita

Lebih Presisi Diagnosis Penyakit

Lebih Presisi Diagnosis Penyakit

DENGAN merujuk penelitian Accenture, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu mereduksi human error (kesalahan manusia) di industri kesehatan tubuh sekaligus membantu penghematan biaya sampai US$16 miliar pada 2026 kelak.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM mengamini bahwa kemajuan teknologi tinggi melalui AI berdampak besar pada penegakan diagnosis dan arah pengobatan zaman depan serupa personalized medicine.

Gambarannya sejenis ini, pendekatan klinis pengobatan pasien tidak lah sama karena disesuaikan dengan bahan genetik dan epigenetik setiap pribadi. Informasi genetik ini juga dibutuhkan untuk melakukan berbagai upaya pencegahan.

“Dengan menggunakan sistem rekam medik dengan baik, dokter dibantu oleh teknologi untuk mendapat gambaran tentang status pasien dan memprediksi apa dengan akan terjadi kemudian sehingga pembelaan pasien dapat diberikan lebih baik, ” kata Prof Ari kepada Media Indonesia, Rabu (21/10).

Kemudahan tersebut akan dirasakan oleh pasien dan juga dokter. Sebab, dokter tidak perlu satu per satu tahu tumpukan berkas data pasien sebab akan ada penanda yang menganjurkan informasi ringkasnya.

“Sehingga kerja dokter semakin mudah, ” imbuhnya.

Selain menegakkan diagnosis dan memutuskan terapi yang tepat, teknologi kecerdasan buatan juga mau merekomendasikan obat secara personal. Ini amat dibutuhkan dalam mengatasi berbagai penyakit yang semakin kompleks, terutama penyakit kanker.

Teknologi akan berguna dalam tangan orang yang tepat. Sejenis juga dengan AI. Prof Selaput menyampaikan dokter harus mempunyai skill berbasis internet of thing (IoT) untuk bisa memaksimalkan teknologi AI itu.

Dokter juga harus memiliki kompetensi di bidang riset untuk menyusun proposal, menghasilkan penelitian dan proklamasi atau paten dengan inovasi yang tinggi, serta mempunyai kemampuan buat mengomersialisasikan inovasi yang telah diciptakan.

Pada Indonesia, kata Prof Ari, pendayagunaan AI di bidang kesehatan telah diaplikasikan dalam sejumlah bidang kemahiran. Di bidang endoskopi gastrointestinal, kehadiran kapsul endoskopi tanpa kabel (wireless capsule endoscopy) yang dilengkapi indikator penanda memudahkan dokter untuk mencatat lokasi perdarahan pada saluran hancur.

Intelek buatan juga menjadi solusi di pengolahan dan pemanfaatan big bahan untuk pelayanan publik. Hal tersebut disadari betul oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang mengelola jaminan kesehatan nasional (JKN).

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris menuturkan pemanfaatan big data diterapkan melalui 10 komitmen perbaikan layanan BPJS, seperti melakukan simplifikasi metode layanan cuci darah, menghadirkan servis antrean elektronik untuk memberikan kepastian waktu layanan, dan melakukan fusi sistem informasi FKTP dan rumah sakit dengan sistem informasi BPJS Kesehatan melalui mobile JKN. (Ata/Wan/H-2)