Berita

Mendatangkan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja saat Pandemi

Mendatangkan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja saat Pandemi

Kesehatan tubuh jiwa anak dan remaja selama pandemi covid-19 perlu mendapatkan menggubris khusus. Pasalnya, keterbatasan ruang aksi di tengah adaptasi kebiasaan terakhir berpotensi menimbulkan masalah pada mental anak dan remaja.

Dikatakan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Sukma Kemenkes, Fidiansjah, terdapat sejumlah faktor risiko terjadinya masalah kesehatan hayat dan gangguan jiwa anak masa pandemi. Di antaranya, minimnya fasilitas pendukung untuk pembelajaran jarak jauh.

Menyuarakan juga: Pandemi, Ketergantungan terhadap Internet Meningkat 5 Kali Lipat

“Sebanyak 68% anak memiliki akses belajar, 32% tidak mendapatkan program belajar di dalam bentuk apapun, ” kata Fidiansjah dalam Temu Media Kesehatan Spirit yang dilaksanakan secara daring sebab Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8).

Selain itu, PJJ juga membuat anak kudu melakukan adaptasi cepat dalam metode pembelajarannya. Dikatakan Fidiansjah, 37% bujang tidak bisa mengatur waktu membiasakan, 30% anak sulit memahami pelajaran, dan 21% anak tidak mengalami instruksi guru.

“Berikutnya, meningkatnya tekanan psikososial selama pandemi. Berdasarkan catatan Kemenkes, 47% anak merasa bosan letak di rumah, 34% merasa terinfeksi covid-19, 35% anak merasa khawatir ketinggalan pelajaran, dan 20% anak merindukan teman-temannya, ” bebernya.

Masalah yang lain yang berpotensi mengganggu kesehatan spirit anak yakni keluarga. Berdasarkan pantauan Kemenkes, 15% anak merasa tak aman, 10% merasa khawatir tentang penghasilan pengampu, dan kekurangan santap, 11% anak mengalami kekerasan fisik, dan 63% anak mengalami kebengisan verbal.

Untuk mencegah masalah kejiwaan di dalam anak dan remaja selama pandemi covid-19, Fidiansjah menyatakan pihak pemerintah telah melakukan berbagai upaya, lengah satunya penguatan pelayanan kesehatan & pengaduan masalah kesehatan jiwa.

“Layanan kesehatan jiwa melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian Agama, dengan upaya pembelajaran yang harus sudah muali kita siapkan. Dari sini tentu Dinas Kesehatan tubuh menyiapkan bantuan. Puskemas, RS, telah siap mengakomodir hal-hal yang dibutuhkan, ” beber Fidiansjah.

“Kita juga meminta kesehtaan jiwa berbasis pada kekuatan masyarakat sebagai subjek bukan hanya sebagai objek. Dukungan paling tinggi tentu harus datang dari masyarakat, ” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan UNICEF Ali Aulia Ramly mengungkapkan, orang tua harus melakoni gejala-gejala gangguan kesehatan jiwa dengan muncul dalam diri anak lantaran perilakunya.

“Mislalnya ada anak yang tadinya aktif, jadi lebih banyak diam. Anak diam, jadi lebih penuh aktif. Lalu mudah marah, kemudian juga memancing kemarahan. Atau lebih banyak tidur, kehilangan nafsu mamah, atau perhatikan gejala fisik sesuai tiba-tiba flu, diare, dan sebagainya, ” beber Ali.

Dirinya menyarankan, karakter tua harus menciptakan lingkungan yang nyaman namun tetap mengontrol perilaku anak di rumah agar anak terhindar dari stres.

“Apa yag bisa dilakukan? Kita harus membuat sistem. Jam berapa dia isturahat, nonton TV, bermain gadget. Struktur itu harus dibuat, agar memberikan kenyamaman bagi anak, ” pungkasnya. (H-3)