Berita

Minggu ini, Armenia-Azerbaijan Bertemu dengan Menlu AS

Minggu ini, Armenia-Azerbaijan Bertemu dengan Menlu AS

MINGGU ini, menteri luar negeri Armenia serta Azerbaijan akan bertemu secara terbelah dengan Menteri Luar Negeri GANDAR Mike Pompeo ketika kekuatan negeri berusaha untuk menghentikan pertempuran di Nagorno-Karabakh.

Menlu Azerbaijan Jeyhun Bayramov & Menlu Armenia Zohrab Mnatsakanyan, me nurut kedua kementerian luar kampung tersebut, dijadwalkan bertemu Pompeo di Washington pada Jumat (23/10).   Namun, mereka berdua mengesampingkan jalan adanya pertemuan trilateral.

Gencatan senjata disepakati awal bulan ini di Moskow dan satu lagi pada simpulan pekan ini. Namun, kesepakatan itu hampir tidak berdampak apa-apa dalam lapangan.

Pihak Yerevan mengatakan 772 tentara Armenia dan 36 warga biasa tewas dalam gejolak pertempuran saat ini. Sementara itu, pihak Baku melaporkan 63 korban dari awak sipil dan belum mengungkapkan kerugian militer mereka akibat konfl ik tersebut.

Konflik lama keduanya meletus sedang pada 27 September dalam perselisihan yang menimbulkan kekhawatiran atas kegagalan mediasi internasional selama beberapa dekade.

Dalam pidatonya pada Selasa (20/10), Pemimpin Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan tentara mereka telah menguasai sekitar 20 desa lagi di distrik yang dikuasai Armenia di sekitar Karabakh Azerbaijan.

“Saya sekali lagi mendesak para-para pemimpin Armenia: tinggalkan wilayah Azerbaijan sebelum terlambat dan kami bakal menghentikan
tembakan, ” katanya.

Namun, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mendesak pengakuan internasional atas Karabakh. Di tempat terpisah, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel  Macron melakukan pembicaraan via telepon pada Selasa. Perkembangan situasi di Nagorno-Karabakh menjadi fokus pengkajian mereka.

“Vladimir Putin memberi tahu mitranya dari Prancis tentang langkah-langkah dengan diambil untuk mencegah eskalasi kesumat lebih lanjut dan melanjutkan perundingan untuk menyelesaikan  masalah Nagorno-Karabakh secara cara politik dan diplomatik secepat mungkin, ” kata layanan pers Kremlin, dikutip laman kantor berita Rusia TASS . (Nur/AFP/I-1)