Berita

Nusantara Ditargetkan Bebas Rabies Pada 2030

Nusantara Ditargetkan Bebas Rabies Pada 2030

RABIES atau penyakit anjing gila masih menjadi perkara kesehatan masyarakat dan hewan di Indonesia.

Setidaknya ada delapan provinsi selamat rabies, yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Pusat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua dan Papua Barat. Namun, sedang banyak laporan kasus dari kira-kira provinsi tertular.

“Mengingat, masih terdapat daerah di Indonesia yang tertular rabies, setiap tahun dilakukan peringatan Keadaan Rabies Sedunia, ” ujar Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto zaman membuka Peringatan Puncak Hari Rabies Sedunia.

Baca juga:   Rabies  Masih Jadi Ancaman di Nusantara

Menyambung penjelasan Terawan, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto menyebut Indonesia perdana kali berpartisipasi dalam Hari Rabies Sedunia pada 2009. Dia berniat peringatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait ancaman rabies.

Semua pemangku kepentingan juga diharapkan mendukung upaya pemberantasan dan menyentuh target eliminasi rabies pada 2030. Eliminasi rabies memerlukan sinergi lintas sektor dan lintas program dalam tingkat pusat berikut daerah.

“Kolaborasi lin kementerian atau lembaga telah berlaku. Namun, hal ini juga membabitkan sektor lain, termasuk swasta, dunia usaha dan seluruh lapisan bangsa, “ ujar Yurianto dalam bukti resmi, Kamis (1/10).

Pada peringatan Hari Rabies Sedunia telah disepakati One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030. Ini menjadi dasar nasional dalam implementasi strategi eliminasi rabies oleh berbagai kementerian, lembaga serta daerah.

Baca juga:   Covifor, Obat untuk Pasien Covid-19 Fakta Berat, Resmi Diedarkan

Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Menemui menjelaskan bahwa secara teknis, rabies dapat dieliminasi apabila vaksinasi di hewan dilakukan tuntas. Terutama, di wilayah tertular rabies dan daerah berisiko tinggi tertular rabies.

“Targetnya ialah vaksinasi pada hewan penular rabies. Khususnya anjing dengan target sedikitnya 70% populasi rentan, ” nyata Fadjar.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Exploitasia menyatakan rabies pula mengancam populasi dan konservasi hewan liar. KLHK pun mendukung & berkontribusi dalam eliminasi rabies di Indonesia.

“KLHK lebih menekankan program pencegahan terhadap adanya penularan rabies di dalam satwa liar. Terutama jenis dilindungi dan endemik Indonesia, ” terang Indra. (OL-11)