Berita

Pabrik Makanan Minuman Diharapkan Tetap Muncul di Tengah Pandemi

Pabrik Makanan Minuman Diharapkan Tetap Muncul di Tengah Pandemi

KEMENTRIAN Perindustrian terus memantau serta menjaga aktivitas sejumlah sektor manufaktur strategis di tengah masa pandemi Covid-19, seperti industri makanan dan minuman yang diharapkan dapat menutup kebutuhan pasar domestik. Namun begitu, operasional pabrik tersebut harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang cermat.

“Industri makanan dan minuman merupakan zona yang sangat potensial untuk langsung dipacu karena juga memberikan jasa signifikan bagi perekonomian nasional, ” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat melakukan kunjungan kerja di PT Mayora Indah Tbk, Tangerang, Banten, melalui rilis dengan diterima, Minggu (20/9).

Agus mengemukakan, biasanya karyawan pabrik yang terpapar virus korona, penyebabnya berasal dari asing lingkungan kerjanya. Menurut Agus, lantaran jumlah kasus positif virus korona di Indonesia saat ini, yang merupakan karyawan pabrik sekitar dua %.

Oleh karena itu, Kemenperin berhubungan pemangku kepentingan terkait aktif berkoordinasi untuk dapat mengawasi penerapan adat kesehatan di sektor industri.

Dia serupa menyampaikan, perusahaan yang sudah menyimpan Izin Operasional dan Mobilitas Kesibukan Industri (IOMKI) dinilai mampu memajukan produktivitasnya di tengah tekanan pengaruh pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan pelaku jalan dan asosiasi yang menunjukkan peningkatan kinerja industri makanan dan minuman pada bulan Juli. Pertumbuhan pabrik makanan dan minuman sepanjang tahun ini diproyeksi mencapai 3-4 persen.

Kemenperin mencatat, pada Triwulan I Tarikh 2020, sektor industri makanan serta minuman memberikan kontribusi sebesar 36, 4% terhadap PDB manufaktur. Pada periode yang sama, pertumbuhan daerah industri ini mencapai 3, 9%.

Beikutnya, pada semester I tahun 2020, industri makanan dan minuman menyerahkan sumbangsih paling besar terhadap capaian nilai ekspor pada sektor manufaktur, dengan angka menembus US $13, 73 miliar (Rp 203, 9 triliun). (E-1)