Berita

Pengangkut Aspirasi yang Dimusuhi

Pengangkut Aspirasi yang Dimusuhi

BILA menyebut kata survei & kuesioner, apa yang ada pada benak Anda terhadap 2 sirih ini? Pilkada? Tingkat kepuasan kepada objek tertentu? Atau yang terlintas malah… ah, malesin banget.

Menurut Wikipedia , survei merupakan salah satu metode pengumpulan keterangan primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada responden (orang yang diberikan pertanyaan). Responden ini dianggap sebagai orang yang dapat mewakili kelompok atau populasi yang menjadi target survei. Alat bantu dalam survei dengan lazim digunakan adalah kuesioner. Kuesioner ini berisi pertanyaan yang disusun dengan penuh pertimbangan dan tali air logika, agar jawaban yang terhimpun nantinya dapat dianalisis dan menanggapi tujuan dari diadakannya survei tersebut.

Kita ambil contoh ada survei yang berjudul Survei Kepuasan Warga Kepada Pak RT, misalnya. Kenapa ada survei ini? Oh, Pak RW mau tahu kinerja Pak RT seperti apa dalam mengayomi warganya. Kalau warga ditanya langsung mulia persatu akan memakan waktu lulus lama. Selain itu tingkat kejujurannya dipertanyakan. Karena manusia cenderung mengutarakan hal-hal yang positif saja masa ditanya langsung mengenai pendapatnya tentang seseorang. Karena itulah diperlukan survei dengan menyebarkan kuesioner.  

Ada dengan offline /luring(kuesioner fisik dalam bentuk beberapa eksemplar kertas pertanyaan, terus dikumpulkan sedang beberapa hari kemudian), atau online /daring (berupa link yang disebarkan lewat WhatsApp Group   (WAG) atau melalui media sosial lainnya). Isi pertanyaannya berkisar seperti apakah ada penarikan iuran bulanan, apakah kebersihan lingkungan dan keamanan tersem-bunyi,   apakah ada perselisihan masyarakat, apakah warga senang dengan warna poskamling yang baru, dan sejenisnya.  

Intinya semua pertanyaan itu untuk menggambarkan tingkat kepuasan warga kepada kinerja Pak RT. Kuesioner biasanya tidak menanyakan nama (bersifat anonim). Untuk data umum yang ditanyakan sekitar jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan sejenisnya. Jadi cantik Pak RW sebagai tim survei maupun Pak RT sebagai topik survei tidak akan tahu siapa yang mengatakan apa.

Tapi bukan berarti kuesioner ini jadi fasilitas ghibah massal. Untuk kemudahan analisis, daftar pertanyaan selalu diusahakan dalam bentuk perkara tertutup, artinya jawaban berupa kurang pilihan yang telah ditentukan. Responden hanya perlu memilih yang sesuai/mendekati opininya. Pertanyaan terbuka (yang menggunakan jawaban berupa uraian) bisanya hanya di bagian saran dan jalan. Pada poin ini biasanya tidak masalah, karena yang namanya saran dan harapan biasanya positif, bukan?

Sejak gambaran di atas, terlihat kalau survei dan kuesioner ini istimewa dalam proses demokrasi dalam populasi yang jamak. Cara ini aman dalam artian responden bisa mengutarakan opini tanpa merasa takut mem seseorang, dan pengelola survei selalu dapat meminimalisir efek bias serta subjektif karena tidak mengetahui sapa respondennya. Dalam metode survei daring hal ini menjadi lebih dimudahkan lagi, karena tidak perlu bertatap muka, cukup buka link yang dikirimkan, jawab sekitar 10-15 menit, kirim, selesai. Selama punya bagian internet seharusnya hal ini semudah kita membuka media sosial serta stalking mantan pacar. Tetapi apakah kenyataannya semacam itu? Well …dari sini cerita suram dimulai.

Profesi saya adalah peneliti dalam ranah kebijakan pemerintah daerah. Pada melakukan kegiatan penelitian, tidak jarang kami harus menggunakan metode inspeksi. Permasalahannya adalah sulit mendapatkan responden. Kami seringnya menggunakan metode survei daring dengan kalimat pembuka membawa nama institusi, tujuan survei, mohon bantuan mengisi dan bla bla bla lainnya. Share link pertama biasanya adalah ke institusi kami tunggal, karena logikanya siapa lagi yang paling membantu selain keluarga dalam rumah sendiri? Dari beberapa kala survei diluncurkan, dapat dihitung secara jari tangan siapa yang antusias dan tanpa paksaan langsung mengisi kuesioner tersebut.  

Berangkat dari sini, dimulailah perjalanan panjang mencari, meminta, dan memohon responden untuk mengisi kuesioner. Dari WAG  satu ke WAG lainnya, kontak personal secara kalimat pengantar yang berbeda tergantung sifat orang tersebut, dan sebagainya. Hal yang menarik adalah, bahkan di kalangan lembaga yang berkecimpung sebagai think thank pun, tingkat respon terhadap survei dan kuesioner sedang rendah.

Inti cerita ini, tidak dipungkiri kesadaran masyarakat Indonesia (terjadi di banyak daerah) untuk berpartisipasi di sistem demokrasi masih sangat aib. Bahwa masyarakat kita tidak teredukasi untuk antusias berkontribusi dan menyumbang pendapat dalam suatu hal, menjadi fakta tersendiri. Padahal hal itu dilakukan demi kemajuan bersama. Kalau masyarakatnya saja susah dimintai dasar, bagaimana kita tahu mau dibawa ke mana arah kebijakan dengan akan dilakukan?  

Kembali ke tiruan Survei Warga Terhadap Kinerja Bungkus RT, kalau warganya emoh dimintai pendapat, ya jangan salahkan Bungkus RT dan Pak RW kalau tiba-tiba mencat jalanan komplek dengan warna ungu. Pak RT serta Pak RW mana tahu kalau ternyata warganya pengen warna abu-abu metalik, kan warga tidak bilang….