Berita

Pengembangan Vaksin Merah Putih Capai 40%

Pengembangan Vaksin Merah Putih Capai 40%

MENTERI Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menyampaikan pengembangan vaksin covid-19 Merah Putih telah mencapai 40%.

Selain Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, ada empat institusi lagi yang mengembangkan vaksin Merah Putih itu, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

“Khusus vaksin yang dikembangkan Eijkman, bisa kami sampaikan tahapannya sekitar 40% dari keseluruhan tahapan,” kata Bambang dalam keterangan pers di Kantor BNPB, Jakarta, kemarin.

Menurutnya, pengembangan vaksin Merah Putih yang dilakukan Eijkman itu menggunakan platform subunit rekombinan, baik yang berbasis sel mamalia maupun berbasis sel ragi. Selain itu, pengembangan juga dilakukan menggunakan platform inactivated virus atau virus yang dilemahkan.

Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan tiga platform, yaitu DNA, RNA, dan virus-like particle, sedangkan Institut Teknologi Bandung dan Universitas Airlangga masing-masing mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan.

“Kita bersyukur ada banyak peneliti yang luar biasa berupaya untuk meneliti dan harapannya bisa mengembangkan dan melahirkan bibit vaksin yang nantinya siap untuk diproduksi,” sebutnya.

Dalam rangka pengadaan vaksin covid-19 di Indonesia, Kementerian Riset dan Teknologi mengembangkan vaksin dengan pendekatan efektif, cepat, dan mandiri.

“Kenapa kemandirian penting karena Indonesia ialah negara dengan penduduk 260 juta yang tentunya semuanya membutuhkan vaksin,” tegasnya.

Bambang berharap mereka siap memproduksi vaksin dan dapat diproduksi di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Nah, kita harapkan pada waktunya mereka siap memproduksi vaksin dan ada kemungkinan apabila vaksinasi dilakukan lebih dari 1 kali per orang, kebutuhan vaksin covid-19 ini bisa mencapai jumlah 300-400 juta ampul,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito mendatangi Uni Emirat Arab (UEA) yang tengah melakukan uji klinis fase III vaksin korona buatan BUMN Tiongkok, Sinopharm.

“Kunjungan ini bertujuan, khususnya untuk memberikan dukungan langkah-langkah regulatori dalam rangka mengakselerasi akses vaksin covid-19 dan mendapatkan informasi data terkait pelaksanaan uji klinis yang saat ini tengah dalam proses fase 3 di UEA,” jelas Penny seperti dilansir dari laman Badan POM, Selasa (1/9). (Fer/Zhi/X-10)