Berita

PSBB Total Jakarta, Pemulihan Ekonomi Jangka Pendek bisa Terhambat

PSBB Total Jakarta, Pemulihan Ekonomi Jangka Pendek bisa Terhambat

PENELITI bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) M. Rifki Fadilah mengatakan kebijakan PSBB Jilid II akan berdampak pada proses pemulihan ekonomi dalam jangka pendek yang akan terhambat.

Hal ini disebabkan semua indikator pembalikan ekonomi akan berubah lagi menjadi negatif. Oleh sebab itu, dirinya menekankan pemerintah diharuskan memiliki target jelas mengenai kebijakan PSBB Jilid II.

Menurutnya, Pemerintah DKI Jakarta perlu memiliki target signifikan penurunan kasus aktif covid-19 dalam dua pekan. Misalnya memastikan adanya 20-30% penurunan kasus aktif. Baru dikatakan PSBB total ini efektivitasnya terukur.

“PSBB Jilid II tentu menarik konsekuensi yang tidak mudah untuk perekonomian, terlebih DKI Jakarta jadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Jika aktivitas terlalu lama dipaksa berhenti tanpa adanya kejelasan kapan berakhirnya, maka kebijakan PSBB Jilid II bisa menjadi semakin counter-productive terhadap perekonomian, ” kata Rifki kepada Media Indonesia, Minggu (13/9).

Rifki juga menekankan kebijakan PSBB akan bias kepada kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak mempunyai pilihan lain. Selain melakukan aktivitas seperti bekerja atau berjualan di pasar untuk mendapatkan penghasilan.

“Kebijakan PSBB total memaksa semua orang beraktivitas dari dan di rumah. Jadi, para pelaku bisnis, pekerja, maupun pihak terkait lainnya akan kehilangan biaya peluang/opportunity cost yang mereka dapatkan jika bekerja/beraktivitas di luar rumah. Jika terlalu lama PSBB, masyarakat akan jenuh dan malah akan menjadi tidak patuh. Akibatnya, PSBB akan memberikan pengaruh yg nihil untuk menurunkan kasus covid-19 dan justru memberatkan perekonomian, ” paparnya.

Dirinya mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta gagal mencapai target, jadi harus mencari strategi lain buat meredam kenaikan angka kasus aktif covid-19 di wilayah DKI Jakarta tanpa melakukan PSBB Total dikarenakan terbukti tidak efektif.

“Jika pemerintah daerah gagal mencapai target ini, maka harus mencari alternatif kebijakan yang lain. Misalnya, melakukan kebijakan karantina wilayah secara mikro, khusunya pada daerah yang penambahan kasus aktifnya masih tinggi. Dengan demikian, wilayah lain yang sudah mengalami penurunan kasus aktif dapat beradaptasi dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Oleh demikian, kondisi ini akan mendukung kegiatan perekonomian berjalan kembali, ” jelas Rifki.

Baca juga:   Pengusaha: PSBB Kali Ini Mungkin Tidak Efektif

Hal ini juga akan menjadi the nudge/dorongan kepada masyarakat dan juga pemerintah dalam level kotamadya seperti wali kota hingga tataran kecamatan-kelurahan untuk ikut andil dalam menurunkan angka penyebaran covid-19.

“Ini akan menjadi faktor the particular nudges/dorongan bagi masyarakat dan pemerintah tingkat kota untuk benar-benar bekerja sama untuk menurunkan angka kasus aktif di DKI Jakarta. Jika wilayah lain bisa, mengapa di wilayah mereka tidak bisa? Oleh demikian, kesadaran dan pengendalian sendiri dari masyarakat juga akan tumbuh untuk mematuhi protokol kesehatan, ” pungkasnya. (OL-5)