Berita

Susi Pudjiastuti Kenangan Merawat Ibunda

Susi Pudjiastuti Kenangan Merawat Ibunda

FOTO mantan Menteri Bahari dan Perikanan Susi Pudjiastuti, 55, ketika menggendong seorang perempuan lanjut usia (lansia) menuju pesawat sempat ramai diperbincangkan pada 2014 silam.

Perempuan lansia yang digendong Susi ialah ibundanya  sendiri, Hajah Suwuh Lasminah. Momen dalam foto tersebut diakui Susi terjadi sekitar 2010, jauh pra dia  menjabat menteri KKP kurun 2014-2019.

Dalam webinar bertajuk Pahami Lansia, Bahagia Seluruh Keluarga yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rabu (15/7), Susi mengenang saat-saat dia mengurus ibunya yang sudah meninggal sebelum dirinya menjabat menteri.

Susi mengatakan dirinya berpendapat praktis dalam mengurus orangtua. Susi menuturkan kasih sayang dan mengindahkan pada sang ibu tak jauh beda dengan yang dia berikan kepada anak-anaknya.

“Saya punya tiga anak semua breastfeeding dari hari  baru sampai 1 tahun. Tidak ada makanan 4 bulan sama sekadar hanya breastfeeding. Saya lakukan tersebut karena  practical. Saya tenteng ke mana-mana, saya bawa ke mana-mana, ” kisahnya.

“Ya, dengan orangtua juga kira-kira sama. Ketika ibu tak bisa jalan, saya harus siapkan suster khusus untuk satu karakter yang memandikan dan apa, tetapi saya juga sering ngajak beliau mandi di bathtub bareng-bareng, ” imbuh pemilik maskapai Susi Minuman tersebut.

Saat memasuki usia 80, sang ibu mulai harus sering minum obat lantaran menderita diabetes sehingga kadar gulanya cukup tinggi. Kerap kali Susi dibuat kesal ketika obat-obat itu malah disembunyikan oleh sang ibu ke bawah sofa.

“Saya bilang, ‘nanti ibu sakit tidak bisa lagi sama-sama kita’. Tempat bilang: orang sudah tua, sebentar lagi juga mati, ” kata pendahuluan Susi.

“Namun, namanya orang sudah primitif, masa mau marah. Saya jika mengerti apa itu diabetes, serta segala macam, terus cari tabib lainnya, ” imbuhnya.

Denyut

Susi menuturkan, dokter yang menyelenggarakan sang ibu menyarankan untuk meminta sang ibu lebih banyak beraktivitas.

Kejadian itu supaya kondisinya lebih tetap sehingga tidak perlu mengonsumsi obat terlalu banyak.

“Dia ikut arisan, & akhirnya dia punya kegembiraan. Hamba ajak juga kalau lagi kerja duduk sebelah saya, saya bicara dengan customer, ” ujar Susi yang mendapat gelar doctor honoris causa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2017.

“Saya tidak merasa bahwa ibu hamba ialah sesuatu yang harus aku umpetin. Saya ajak terbang. Temen-temennya  saya undang, mereka punya arisan sebulan sekali, ” kisah Susi.

Namun, lanjut Susi, seiring waktu teman-teman anggota arisan ibunya makin berkurang lantaran satu per satu wafat dunia. Susi pun memanggil orang-orangtua lain agar ibunya selalu memiliki teman.

“Bekas karyawan pabrik ikan, hamba panggilin suruh nemenin. Alhamdulillah opportunity hidup saya memberikan do a lot of things , ” tuturnya.

“Waktu ibu saya masih hidup, saya selalu taking her to my day to day life . Tidak saya pisahkan. Dia main dengan anak-anak saya, ngobrol dengan tamu saya, ” kata Susi.

Setelah ibunya meninggal, Susi juga masih memperlakukan lansia-lansia adik dari ibu & bapaknya. “Saya pesan  (kepada anak-anak muda), jaga mereka karena sejenis mereka tidak ada, it’s a big loss, you’ll miss them . Jadi, love them, treat them , perlakuan mereka dengan bagus seperti kita sendiri, ” pungkasnya. (H-3)