Berita

Weekend

MAK Yong adalah seni tradisi Melayu yang menyatukan unsur tari dan irama (disertai nyanyian pelakonnya), mengikuti tutur cerita. Kesenian itu dimulai dengan ritus suci yang disebut upacara ‘buka tanah’ dan diakhiri secara ritual serupa.

Mak Yong konon berasal dari Nara Yala, daerah Patani (saat ini masuk wilayah Thailand Selatan). Dari sana, keindahan itu kemudian menyebar ke Kelantan (Malaysia) sekitar 200 tahun yang lalu. Dari Kelantan, Mak Yong langsung masuk Singapura, kemudian menyeberang ke Riau, Indonesia. Kisah Mak Yong di Indonesia menarik untuk ditelaah serta dipelajari sebagai warisan kebiasaan tak benda yang memperlihatkan keterkaitan budaya Melayu di tiga negara berbeda.

Banyak kisah disampaikan mengenai asal dan makna Mak Yong, dari kisah yang sifatnya sakral, dongeng, hingga ke pemaparan akademis dari para-para ahli. Jeanne Cuisinier di Dances Magiques de Kelantan (1931), misalnya, mengartikan Mak Yong sebagai roh nenek (Mo Yang ‘nenek’ dan Po Yang ‘datuk’). Menurutnya, Mak Yong berasal dibanding Main Puteri, yaitu sejenis upacara pengobatan yang dikerjakan dengan iringan tarian serta nyanyian. Adapun Walter William Skeat dalam Malay Magic Being: An Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula (1967) berpendapat, Ibu Yong berasal dari prawacana Mak Hiang yang berguna roh ibu atau semangat padi.

Ada pula dongeng lain yang menarik serta berbau mistis. Konon seseorang yang bernama Awang Dalang, yang kemudian dikenal jadi pendiri Mak Yong Bintan, berjalan-jalan ke Kelantan. Dia menyaksikan sekelompok orang, bukan seperti manusia biasa, menari dan bernyanyi. Suaranya terdengar seperti bunyi ‘yong de de’. Awang kemudian mengecap pertunjukan itu sebagai Ibu Yong, dan mengajarkan apa yang telah ia menentang. Seorang muridnya ialah Ibu Ungu, perempuan yang lalu menjadi ibu angkat Tuk Atan, salah seorang pakar Mak Yong di Bintan.

Tuk Atan terlahir secara nama Tengku Muhammad Atan Rahman, dilahirkan di Singapura pada 1931 dari pasangan Tengku Rahman dan Ibu Sabariah. Ketika pecah perang pada 1942—1945, saat Singapura ditaklukkan Jepang, Tuk Atan bersama Mak Ungu membelakangi negeri itu dan tercampak di Mantang Arang, pulau kecil di wilayah Mantang, Bintan Timur. Mak Ungu mengajarkan Mak Yong kepada Tuk Atan dan beberapa diantara kita lain, seperti Mak Wet, Pak Khalid, dan Bungkus Basir, yang kemudian lumrah sebagai generasi kedua pemain Mak Yong di Kepulauan Riau.

Setelah Mak Ungu meninggal di awal 60-an, para tokoh Mak Yong berpencaran meninggalkan Mantang Arang. Mak Wet yang dikenal sebagai primadona (sebagai penari maupun tokoh utama Ibu Yong) pindah ke Tembeling, Bintan Timur. Tuk Atan, sang maestro Mak Yong, menetap di Kampung Keke, Kijang, Bintan Timur, had wafat pada 2003. Pak Basri pindah ke Pulau Panjang, Batam dan membangun sanggar seni Melayu. Susunan Pak Khalid yang menetap di Mantang Arang.
Meskipun telah terbentuk bermacam-macam kelompok di daerah dengan berbeda-beda, Mak Yong dalam Indonesia yang berasal sebab Kelantan tetap dikenal yang dari Mantang Arang. Zaman ini semua maestro Ibu Yong generasi ke-2 tersebut sudah pupus atau meninggal.

Pewarisan Mak Yong Kampung Keke dilanjutkan oleh anak Tuk Atan, Tengku Satar. Ia mendirikan Sanggar Peninggalan, melanjutkan pentas Mak Yong dalam berbagai model, berpegang pada permintaan seperti pendamping acara kabupaten dan pengiring sajian makan malam para peserta kunjungan wisata Bintan. Kelompok ini sudah beberapa kali pentas serta bisa menyesuaikan diri dengan syarat teknologi, termasuk pentas dengan virtual pada November 2019.

Sakral

Ibu Yong bersifat sakral sebab pada setiap pertunjukannya diawali dan diakhiri dengan ritus ‘buka tanah’ dan ‘tutup tanah’ yang dilakukan oleh seorang bomoh, orang dengan khusus memiliki keahlian dalam bidang supranatural. Para pemain, termasuk di dalamnya para-para pemusik dan penari, diberi air dan mantra dengan dipercaya dapat membuat mereka bermain dengan baik. Semua peralatan yang dipakai dalam pementasan juga diberi ilmu. Secara khusus, pemeran utama, topeng, dan peralatan irama berupa gendang dan rebab diberi lagi mantra serta jimat lain.

Pada upacara buka tanah, bomoh menodong izin dan minta maaf kepada para leluhur. Semasa upacara ini berlangsung, tidak boleh ada seorang pun yang melintas di depan arena pertunjukan karena dikhawatirkan mengganggu ‘yang tidak kelihatan’. Setelah upacara ini siap, lagu Menghadap Rebab secara tari Ular Sawah dipertunjukkan. Kemudian cerita Mak Yong dimulai dengan lagu pembukaannya, Betabik. Cerita ditampilkan melalui dialog para tokoh dan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan iringan musik dan tarian. Pada akhir pertunjukan, bomoh akan menutupnya dengan upacara ritual yang biasa dikenal upacara ‘tutup panggung’.

Dalam masa jayanya sekitar tahun 1950-an, pertunjukan Mak Yong bisa berlangsung selama tiga malam. Namun, di era kini belum pernah tersedia pertunjukan lebih dari 3 jam. Pada umumnya pertunjuk­an dimulai setelah isya sampai sekitar pukul 11 suangi. Tidak ada panggung. Para-para pemain duduk di lembah beralas tikar. Pemain yang harus memerankan seorang tokoh atau harus menari bakal berdiri dan masuk ke arena pementasan.

Pemain Ibu Yong berjumlah sekitar 20 orang. Beberapa pemain dengan berperan sebagai awang, pengasuh, dan tokoh lain sesuai jin, dan Betara Tutor dalam Mak Yong Riau, memakai topeng seperti halnya Mak Yong di Patani. Pendukung lain yang penting ialah pemusik, dengan peralatan rebab, gendang penganak, tingkah pengibu, dua tawak-tawak/gong, perut mong-mong, gedombak (kendang berwajah satu yang terdiri dibanding penganak dan pengibu), canang, dan serunai.

Repertoar Mak Yong terdiri atas kira-kira 12 cerita yang dimulai dengan cerita Dewa Bujang atau yang di Nusantara dikenal dengan nama Berputar Muda. Ada cerita istimewa yang hanya ada dalam Indonesia, yaitu cerita Wak Perambun yang biasa dipentaskan, dan cerita Badruzzaman yang hanya ada dalam naskah tapi belum pernah dipentaskan. Kedua cerita di Nusantara tersebut tidak dikenal pada Kelantan dan di wilayah lain di Malaysia.

Cerita Wak Perambun dikenal di daerah Patani sebagai rencana dari Menora. Walter Skeat menyebutnya Pran Bun. Cerita Wak Perambun atau Kepala Perak Saiton berkisah tentang Raja Perak Saiton dengan berusaha memenuhi permintaan permasurinya, Putri Nang Hanum, dengan sedang hamil. Wak Prambun, pemburu istana, diperintahkan untuk mencarikan rusa putih sulung dari ayah sulung serta bunda yang sulung lantaran hutan rimba yang sulung pula.

Wak Prambun tidak berhasil mencarikan permintaan tersebut. Alih-alih seekor rusa, dia mendapatkan seorang putri jelita bernama Putri Nangnora. Masa putri kayangan ini medium mandi di hutan beriringan saudara-saudaranya, baju pelayangnya diambil oleh Wak Perambun sehingga ia tidak dapat landas kembali ke khayangan. Ananda Nangnora diangkat anak sebab Wak Perambun. Ketika Indra mendengar hal ini, dia mengambil Putri Nangnora untuk dijadikan istri. Permaisuri kembali ke rumah orangtuanya. Sebab tidak ikhlas putri akan dijadikan istri Raja, Wak Prembun mengembalikan baju pelayangnya agar ia dapat kembali ke kayangan. Cerita berakhir dengan adegan Permaisuri balik ke istana. (M-4)

TENTANG PENULIS

Pudentia MPSS

Pembimbing dan peneliti di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Menamatkan S-1 bidang sastra modern di Fakultas Sastra UI pada 1982; Magister sastra di Fakultas Pascasarjana UI, dan Doktoral Rencana Sandwich UI dengan Universitas Leiden serta Universitas California, Berkeley. Ia kini menjabat Ketua Asosiasi Tradisi Lidah (ATL), juga Ketua Lembaga Strategi Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat dan Amdal Budaya FIB UI.